Kamis, 21 April 2011

Aku dan Mereka

Siapa aku sebenarnya?

Kenapa aku harus hidup?

Untuk siapa aku hidup?

Ya, aku diciptakan Tuhan menjadi mahluk yang indah (wanita), aku bersyukur karena Tuhan memberikanku fisik selayaknya manusia biasanya. Dengan rambut yang lurus, dua mata yang indah, hidung, mulut, dua tangan dan dua kaki yang sangat aku syukuri sampai detik ini di usiaku yang ke 19. Kehidupanku juga sangat aku syukuri karena aku diberikan orangtua yang sangat menyayangi dan mencintaiku dari aku lahir sampai beranjak dewasa sekarang. Dan aku tak pernah berhenti berdoa pada Tuhan karena kehidupanku juga sangat berkecukupan untuk setiap harinya.

Terima Kasih Ida Sang Hyang Widhi Wasa :)

Aku bukanlah wanita yang pandai saat sedang mengikuti pelajaran, tapi aku hanya seseorang yang suka memperhatikan setiap kata yang diberikan seseorang saat mereka bertanya kepadaku dan mendengar perkataanku. Dari sanalah aku belajar untuk selalu menghargai orang lain, meskipun banyak orang yang tidak bisa menghargaiku.
Not bad, itulah kehidupan :)

Dimana kalian sesungguhnya mendapat pelajaran kehidupan?

Hanya orang lain yang mampu memberi kita arti kehidupan, saat mereka menceritakan kehidupannya suka duka apapun itu, saat itulah kita merasa kita tidak akan pernah bisa jauh dari nasib mereka.
Sekaya apapun kita, pasti akan pernah merasakan kemiskinan apabila kita angkuh menjalani kehidupan.
Secantik dan setampan apapun kita, pasti orang lain akan melihat dari sisi dalam kita, bukan berteman dengan fisik kita.

Banyak hal yang tidak kita ketahui dalam diri kita, tetapi ketahuilah bahwa kita tetap bisa menghargai orang lain sampai kapanpun itu :)














Hakikat Kehidupan Manusia

Ada seorang wanita ini berumur tujuh puluhan. Pernahkah Anda membayangkan bagaimana orang seusia ini menilai hidupnya ?. Jika ada yang ia ingat tentang hidupnya, tentunya berupa suatu “kehidupan yang cepat berlalu”.
Ia akan berkomentar bahwa hidupnya tidaklah “panjang” sebagaimana impiannya di usia belasan. Mungkin tak pernah terlintas dalam benaknya bahwa suatu hari ia akan menjadi begitu tua. Namun kini, ia dicekam oleh kenyataan bahwa ia telah meninggalkan tujuh puluh tahun di belakangnya. Ketika muda, mungkin tak pernah terpikir olehnya bahwa kebeliaan dengan segala gairahnya akan berlalu begitu cepat. Bila pada usia senja ia diminta untuk menceritakan kisah hidupnya, kenangannya akan terangkum dalam pembicaraan hanya selama lima atau enam jam saja. Hanya itulah yang tersisa dari yang disebutnya sebagai “masa tujuh puluh tahun yang panjang”.

Sampai detik ini, manusia tak pernah mengerti mengapa harus menjalani hidup, susah payah, bekerja dan mencari uang untuk kehidupannya, padahal mereka hidup dengan tujuan kebahagiaan. Namun, kenapa harus ada kematian, yang jelas-jelas manusia tidak menginginkannya. Kehidupan dilakukan susah payah, namun Kematian dilakukan sangat mudah. Itu menjadi pertanyaan besar. Akhirnya, manusia hanya bisa berusaha dan lebih banyak pasrah akan hidupnya karena hanya Tuhan yang tahu jalan hidup mereka.